Ancaman Terorisme di Selat Malaka
Komandan Lantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI SM Dorojatun membenarkan informasi mengenai ancaman terorisme di Selat Malaka.
“Kita terima informasi itu, sekitar dua hari yang lalu,” kata Dorojatun. Ia mengatakan informasi itu diterima dari AL Singapura dan Pasintel AL, yang bekerja bersama-sama.
Kelompok teroris diindikasikan akan membajak kapal tanker yang berlalu-lintas di Selat Malaka. Meski begitu, ia mengatakan masyarakat tidak perlu panik dengan peringatan tindakan terorisme tersebut. “Itu baru informasi, belum jelas pasti,” kata dia. TNI AL, kata dia, akan lebih waspada dalam operasinya di laut. Namun, tidak akan menambah jumlah personel penjagaan di Selat Malaka. “Kita alert. Konsentrasi ditingkatkan,” kata dia.
Saat ini, sebanyak 12-15 kapal TNI AL beroperasi di Selat Malaka, mulai dari Sabang hingga Natuna. Kapal-kapal tersebut akan dioptimalkan untuk menjaga perairan Selat Malaka, terkait informasi ancaman yang diterima. Di tempat yang sama Direktur Polisi Air Polda Kepulauan Riau AKBP Yassin Kosasih juga membenarkan menerima peringatan kemungkinan tindakan terorisme di Selat malaka. “Kita terima dua hari yang lalu,” kata dia.
Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, kata dia, Polair menempatkan empat orang anggota Densus 88, enam orang anggota brigade bermobil dan 21 orang anggota Polair dalam kapal patroli 364 milik Polair. “Anggota densus, juga dilengkapi sniper, untuk antisipasi saja,” kata dia. Namun, kata dia, masyarakat dan pemilik kapal yang lalu lalang di Selat Malaka tidak perlu panik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa aktivitas terorisme yang terbongkar di Nangroe Aceh Darussalam belum lama ini bukan berasal dari unsur Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Benar-benar kelompok teroris, yang mengorganisasi diri dengan rapi, memilih tempat-tempat daerah latihan di Aceh, dengan harapan orang sekarang tidak lagi melihat Aceh sebagai daerah konflik,” katanya.
Menurut Kepala Negara, ada pihak-pihak yang berharap Indonesia terlena sehingga mereka dapat mempersiapkan segalanya untuk aksi-aksi terorisme. “Saya memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan jajaran politik hukum dan keamanan terutama jajaran Polri dibantu oleh yang lain yang selalu melaksanakan operasi untuk pemberantasan terorisme atau sel-sel terorisme di Aceh,” katanya.
Sementara itu Tim gabungan dari Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Kepolisian NAD menangkap 15 orang yang diduga memiliki kaitan dengan terorisme di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Penangkapan telah dimulai sejak 20 Febuari lalu. Satu diantara mereka, yang berinisial AB dilaporkan tewas ditempat oleh media karena menyerang polisi. Polisi juga menyita barang bukti berupa empat senjata api laras panjang, 24 magasin dan satu granat asap selain berbagai atribut seperti seragam rompi militer serta sejumlah dokumen. *
Popularity: 1% [?]