Giliran Penukaran Uang Asing Dirampok
Setelah mobil pengangkuat uang bank BNI dirampok, kini dua perampok bersenjata api dan golok menggasak duit puluhan juta milik Rita Hariyani (40) di gerai penukaran uang asing milik Rita di Jalan Kalibata Nomor 03, Kramat Jati, Jakarta Timur. Korban, pemilik usaha penukaran mata uang asing, PT Karya Utama Kala Sindo, menderita rugi puluhan juta. “Semua uang digasak, yang di dompet juga,” katanya.
Kejadian berawal siang usai seorang nasabah menukarkan US$ 100. Nasabah itu tak langsung pergi namun masih mengetik pesan pendek, walau sudah dilayani. Usai nasabah itu pergi, Yadi, 40 tahun, salah satu karyawan keluar guna menyetor uang ke bank. Lalu di pintu depan, ada lelaki menguluk salam. Korban, yang sedang di dalam kantor bersama rekannya, Solihin, 43 tahun, hendak keluar ke pintu depan. Belum sampai pintu depan, pelaku sudah masuk sambil menodong senjata api. Korban hanya bisa pasrah dan menunjukkan uang. Tak berapa lama, pelaku kedua bersenjata golok ikut masuk. Pelaku pertama menodong senjata api, sedang pelaku kedua menggasak uang dan memasukkan ke dalam saku jaketnya.
Pelaku lalu keluar, satu per satu sambil menodongkan senjatanya. Mereka kabur naik motor ke arah Kalibata. Korban, yang ketakutan, tak langsung keluar. Selang berapa lama, korban baru keluar kantor. Ketika tahu, ada perampokan, warga segera berkerumun. Yadi yang baru pulang dari menyetor uang lalu melapor ke Kepolisian Sektor Kramat Jati.
Korban mencurigai nasabah terakhir yang menukar uang. “Kemarin pagi-pagi dia datang mau tukar uang, tapi tak dilayani karena belum ada rupiah,” kata korban. Beberapa hari yang lalu, ada nasabah yang menanyakan penjagaan keamanan kantor korban, namun korban menilai wajar. Sebelumnya, pada 2002 korban juga pernah dirampok. Tapi keburu warga mengetahuinya, perampokan gagal dan pelaku kabur.
Sementara itu keterlibatan orang dalam terkait kasus perampokan uang milik BNI Rp 15 miliar semakin menguat. Asosiasi perusahaan pengiriman uang mensinyalir adanya keterlibatan orang dalam pada perampokan itu. “Dari berbagai pengalaman 80 persen tindakan kriminal terjadi dari orang dalam. Baik dari petugas yang di BKO-kan atau dari perusahaanya sendiri,” kata Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Angkutan Uang dan Barang Berharga Indonesia, Alex.
Alex menjelaskan, di perusahaanya, PT Armored Transfer Indonesia, petugas pengantar uang diharuskan menitipkan telepon gengam selama pengiriman uang. “Biasanya dari HP ini informasi pengiriman uang bocor,” katanya. Alex meminta dikeluarkannya aturan baku mengenai pengamanan pengiriman uang yang melibatkan polisi. Aturan ini harus mencakup pedoman dan tugas-tugas pengawal mobil angkutan pengiriman uang. *
Popularity: 2% [?]
weleh.. yo wes toh hati2