Survei Menangkan SBY, JK Menang di Elit Perkotaan
Pemilu presiden 2009 semakin membuktikan ketokohan SBY. Semua survey cepat langsung menempatkan pasangan SBY-Budiono sebagai pemenang, dengan perolehan suara lebih dari 55 persen, sedangkan Mega-Prabowo 20 persen, dan JK-Win hanya 12 persen. JK hanya menang di Sulsel, dan Mega di Bali. Sisanya dikuasai SBY.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyatakan bahwa pasangan Capres Jusuf Kalla-Wiranto hanya menang di kalangan pemilih tingkat elit, sementara kalangan bawah masih dikuasai pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.
Koordinator Central Data penghitungan Cepat LSI, Deni Irdani, mengatakan, peroleh suara sementara pasangan JK-Win yang hanya 12,60 persen sudah diprediksi sebelumnya. “Memang beberapa minggu terakhir perolehan suara SBY-Boediono sempat turun hingga tujuh persen pengaruh dari naiknya performance JK-Win dalam beberapa kali debat Capres, tapi itu hanya tingkat elit,” kata Deni.
Survei LSI dua minggu sebelum Pemilu menunjukan pasangan JK-Win mendapatkan suara sekitar 11 persen, Mega-Pro 12 persen dan dan SBY-Boediono 60 persen. Tenyata juga hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil hitung cepat Pilpres ini. Hitung cepat LSI hingga pukul 16.00 WIB, SBY-Boediono unggul dengan 60,82 persen dari total suara yang masuk 98,87 persen. Karena SBY berhasil menyakinkan rakyat, bahwa pembangunan telah dilaksanakan dengan baik. “Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan SBY cukup tinggi, sehingga wajar pasangan SBY-Boediono berhasil mendapatkan suara tertinggi,” katanya.
Sementara itu pada jam yang sama pasangan JK-Win mendapat suara 12,60 persen dan Mega-Pro hanya memperoleh suara sebanyak 26,56 persen. Deni menjelaskan, metode yang digunakan dalam quick count LSI adalah “Stratified duster random sample” pada 2.116 TPS dari 450.000 TPS yang tersebar di seluruh Indonesia dengan tingkat kesalahan sekitar satu persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. “Saya kira TPS sebanyak itu cukup mewakili karena tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.
Sementara itu, ketua tim kampanye Jusuf Kalla/Wiranto tingkat nasional, Fahmi Idris mengatakan, temuan daftar pemilih tetap (DPT) bermasalah menyebabkan siapapun pemenang pemilihan presiden (Pilpres) 2009 adalah cacat hukum. Ditemukannya DPT itu bermasalah setelah dilakukan berbagai pengecekan. Menurut dia, dari berbagai pengecekan itu diperoleh kesimpulan yang intinya DPT ini bermasalah dan itu diakui KPU.
“Dengan kata lain siapapun nanti yang terpilih atau yang menang salah satu dari yang tiga pasangan maka dia membawa masalah atau dengan kata lain cacat hukum,” katanya. Cacat hukum itu, menurut dia, bukan berarti menggugurkan keterpilihannya, tapi kalau ia tidak memperbaiki (DPR, red) maka cacat itu akan terbawa terus pada pemilihan-pemilihan berikutnya. *
Popularity: 1% [?]