Gagal Ke Jepang, Datangi BNP2TKI
Sekitar 58 orang Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) yang gagal mengikuti seleksi akhir penempatan tenaga kesehatan ke Jepang mendatangi kantor Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Ke-58 CTKI ini adalah bagian dari 200 orang lebih calon tenaga kesehatan untuk perawat orang tua jompo berlatar pendidikan D3-SI umum (bukan sekolah perawat).
Meski sudah memiliki sertifikat perawat dari Direktorat Bina Latas Depnakertrans, namun mereka gagal mengikuti seleksi yang ditentukan agensi Jepang, JICWELS. “Kami memahami dan bersimpati dengan adik-adik yang datang jauh-jauh dari pelbagai tempat ke BNP2TKI untuk mencari kejelasan tentang prosedur penolakan bekerja ke Jepang,” ujar Deputi Penempatan BNP2TKI Ade Adam Noch.
Menurut Ade, persoalan diterima atau tidaknya CTKI kesehatan ke Jepang sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah Jepang melalui agensinya JICWELLS. BNP2TKI hanya memfasilitasi data, dan tidak mempunyai kewenangan dalam soal kelulusan peserta tes. Deputi Penempatan ini memahami bahwa karena seleksi tes ini memakan waktu berhari-hari, banyak di antara peserta yang terpaksa harus keluar dari pekerjaannya. Namun, BNP2TKI tidak bertanggungjawab terhadap keputusan berhenti kerja.
Mengutip alasan penolakan pihak Jepang, Ade yang dalam pertemuan itu didampingi oleh Direktur G to G BNP2TKI, I Wayan Mandi, membacakan surat Japan International Corporation of Welfare Services (JICWELS) kepada Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat tertanggal 14 Mei 2009.
Dalam surat itu Managing Director JICWELS, Takashi Tsunoda menyebutkan bahwa pemerintah Jepang melalui JICWELS memberitahukan, bahwa Calon TKI yang diterima untuk bekerja ke Jepang sebagai tenaga kesehatan jumlahnya hanya sekitar 467 orang.
Padahal dalam perjanjian G to G antara Indonesia dengan Jepang, tercatat kouta yang dibutuhkan Jepang untuk tenaga kesehatan dari Indonesia berjumlah 1.000 orang. Penempatan TKI pertama dilakukan bulan Agustus 2008 sebanyak 208 orang, dan sisanya 792 orang ini seharusnya bisa diberangkatan tahun 2009 sesuai dengan kontrak yang disepakati.
Namun dikarenakan belum pulih dari krisis ekonomi global, Jepang terpaksa membatasi sisa kuota yang telah disepakatinya dari 792 orang menjadi 467 orang. Dengan demikian terdapat 325 CTKI yang terpaksa tidak bisa diberangkatkan ke Jepang. Peluang kekurangan itu diisi oleh orang Jepang yang kini banyak menganggur akibat krisis global.
Menurut Ade, dari jumlah 467 orang itu, terdapat 197 orang perawat dan careworker (perawat orang tua) 203 orang. Jadi total keseluruhan CTKI yang berhasil mengikuti seleksi berjumlah 400 orang, dan kini tengah mengikuti pelatihan bahasa di Kampus UPI, Bandung selama 4 bulan.
Kepada ke-58 CTKI itu, Ade setuju dengan gagasan bahwa apabila pihak Jepang akan merekrut kembali tenaga kesehatan dari pendidikan umum (untuk merawat orang tua jompo) mereka diprioritaskan untuk diseleksi ulang.
“Saya hanya mengusahakan untuk memasukkan keinginan kalian ini kepada Pak Dirjen. Namun, soal setuju atau tidaknya saya belum tahu,” ungkap Ade. Ade meningatkan kepada ke-59 CTKI yang gagal seleski tes agar tidak tertipu oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan pemerintah untuk membantu proses kelulusan.
Pada kesempatan itu, Direktur G to G BNP2TKI, I Wayan Mandi menambahkan bahwa semua data CTKI yang sudah memiliki sertifikat keperawatan dari Binalatas akan dimasukkan di website bnp2tki.go.id, dan disebarkan lewat Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI).
Tujuannya, agar bila ada yang membutuhkan tenaga kesehatan mereka bisa diprioritaskan untuk bisa direkruit di luar negara penempatan Jepang. “Khusus untuk TKI wanita, negeri Taiwan membutuhkan banyak perawat. Sedangkan untuk TKI pria akan dicarikan penempatan di Negara lain yang banyak dibutuhkan oleh Pelasana Penempatan TKI Swasta,” tambah Ade. *
Popularity: 3% [?]