Jejak Lima Tahun Perjalanan BNP2TKI Di Ulas Dalam Satu Buku
BNP2TKI (26/1) Kebesaran nama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) tak bisa dipisahkan dari Kepala BNP2TKI yang memimpinnya: Moh Jumhur Hidayat.
Di bawah kepemimpinan Jumhur Hidayat, isu TKI sudah menjadi mainstream pemberitaan nasional.
Dengan gaya kepemimpinan yang dialogis, dan menolak budaya pengarahan seperti lazimnya di kebanyakan lembaga pemerintahan, Jumhur berhasil mengembangkan pola komunikasi di birokrasi yang emansipatoris, dialogis dan argumentatif di era kepemimpinan (2007-2012). Komunikasi yang dialogis dan bersahabat ini juga dikembangkan dalam hubungan dengan media dalam setiap perjalanan BNP2TKI.
Karena itu, sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang masih relative baru, rating pemberitaan BNP2TKI sudah sangat tinggi sekali. Sebuah situs penghitung kunjungan media bernama Alexis pages rank pernah menempatkan pengunjung situs bnp2tki.go.id ini tertinggi kedua lembaga negara setelah situs salah satu Departemen di tahun 2010 lalu. Karena itu, wajar saja jika kemudian Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di tahun 2010 menobatkan situs bnp2tki.go.id sebagai situs terbaik kedua milik pemerintah.
Terbitnya buku 5 Tahun BNP2TKI, Mengabdi dengan Cinta yang disusun oleh Tenaga Profesional Kepala BNP2TKI bidang Pengembangan Komunikasi Publik, Mahmud F Rakasima sesungguhnya menjelaskan tonggak-tonggak perjalanan (milestones) BNP2TKI di bawah kepemimpinan mantan aktivis ITB yang dikenal suka berdemo sejak mahasiwa.
Buku yang ditulis setebal 314 halaman ini terdiri dari 6 Bab. Bab I Sejarah Penempatan TKI dan Pembentukan BNP2TKI. Ada 24 halaman mengulas sejarah penempatan TKI sejak zaman Hindia Belanda dimulai ketika pengiriman TKI diberangkatan dari Batavia (Jakarta) dengan kapal “SS Koningin Emma” ke Suriname pada tanggal 21 Mei 1890 (hal. 13-16). Paska Kemerdekaan, pemerintah waktu itu membentuk Kementerian Perburuhan dan mengangkat “Soerastri Karma (SK) Trimutri” yang terkenal sebagai wartawan sebagai Menteri Perburuhan Pertama. Demikianlah, kebijakan pengiriman TKI ini berlanjut hingga Orde Baru dan era Presiden SBY.
Pada Bab II, sedikitnya ada 2 gebrakan yang dilakukan Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat. Pertama, penghapusan pungutan TKI Rp 25.000,- yang dibebankan kepada setiap TKI dari luar negeri melalui Terminal III Bandara Soekarno-Hatta, Banten sebelum dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Keputusan penghapusan itu ditetapkan pada 17 Juni 2007. Kedua, menaikkkan gaji TKI di bulan Juli 2007 di sejumlah negara seperti Singapura dari 280 dolar Sing menjadi 350 dolar Sing dan gaji TKI di Arab Saudi dari 600 Real Saudi (RS) menjadi 800 RS. Selain itu, gaji di Uni Emirat Arab (UAE) juga dinaikkan dari 600 dirham menjadi 800 dirham per bulan. Untuk Kuwait, Qatar dan Bahrai, kenaikan gaji ditetapkan rata-rat 25 persen dari yang beraku tiap bulannya.
Pada Bab III BNP2TKI 2008: Sosialisasi Kelembagaan dan Desentralisasi Kewenangan, mengulas soal beberapa agenda penting diantaranya tentang peresmian Gedung Pelayanan Kepulangan TKI Selapajang, Safari Ramadhan I BNP2TKI dan lahirnya dualisme pelayanan TKI antara BNP2TKI dengan Depnakertrans. Dualisme itu muncul lantaran Menteri Erman Soeparno mengeluarkan Permenakertrans No. 22/2008 yang mengambil semua kewenangan BNP2TKI kecuali penempatan G to G ke Korea dan Jepang.
Meski kewenangan BNP2TKI dipersempit, lembaga ini masih membuat terobosan pelayanan dalam bentuk Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Model ideal LTSP Mataram ini mejadi “icon” baru dari pelayanan TKI yang cepat, murah, efesien dan accountable. Gubernur NTB yang menyambut gagagasan Kepala BNP2TKI tentang layanan LTSP ini kemudian mendapat penghargaan Satyalencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Di Bab III, perseteruan BNP2TKI-Depnakertrans ini berlanjut dengan adanya sejumlah elemen LSM TKI dan melakukan uji materil terhadap Permen 22/2008. Hasilnya, Mahkamah Agung memenangkan gugatan elemen ini dan membatalkan Permen 22. (hal. 68). Di tahun yang sama pula, 2009 ini, BNP2TKI mendapat penghargaan dalam hal pengelolaan keuangan negara dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Kepala BNP2TKI, memberi catatan ulasan terhadap perjuangan elemen rakyat “melawan” Menteri Erman waktu itu sebagai pengalaman istimewa yang dialami BNP2TKI. Dari sejumlah program penempatan berupa reformasi kebijakan dalam penguatan institusi layanan TKI seperti program sosialisasi kelembagaan, dan Bimtek TKI Purna. Pada program perlindungan juga dirintis adanya unit Crisis Center untuk pengaduan kasus TKI bermasalah. Namun demikian dari semua ulasan di bab III dan Bab selanjutnya, kontroversi dualisme pelayanan TKI antara instansi pemerintah ini memang merupakan kajian yang menarik secara akademis.
Pada Bab IV, krisis ekonomi global tahun 2009 juga mempengaruhi program penempatan TKI ke sejumlah negara. Dampak itu sangat terasa pada pengiriman TKI G to G ke Korea Selatan yang mengalami penurunan drastis dari tahun sebelumnya. Sejumlah terobosan pun diluncurkan Kepala BNP2TKI mulai dari pembentuk program Kelompok Berlatih Berbasis Masyarakat (KBBM), penempatan TKI “by design:, pembentukan Klinik Psikologi TKI dan promosi rekruitmen TKI melalui Job Fair (Bursa Kerja) di sejumlah daerah.
Sementara pada bab V, dan IV, penyusun banyak mengulas hal-hal terkait day to day pengelolaan permasalahan TKI di bidang penempatan, perlindungan dan kerjasama luar negerai dan promosi BNP2KT baik di dalam negeri maupun di sejumlah negara. Di bidang pemberdayaan TKI, BNP2TKI berhasil merintis kerjasama dengan Bank Dunia (World Bank), penanganan kasus TKI Sumiati di Arab Saudi akibat kekerasan majikan hingga kebesaran hati Kepala BNP2TKI untuk meminta maaf atas kekeliruan informasi tempat pemakaman Ruyati, TKI terhukum mati di Arab Saudi.
Last but not least, Buku 5 tahun BN2PTKI ini meski memang perlu dilengkap dengan foto dan indeks, table pada edisi mendatang dari sisi informasi, akurasi data dan detail penyajian sudah lebih dari cukup untuk pembaca mengenali kiprah BNP2TKI selama lima tahun. Selebihnya, silahkan pembaca berpetualangan dengan informasi yang disajikan penyusun yang mantan wartawan Tabloid DeTIK ini.
Popularity: 1% [?]