Ibu Mano Terancam Dideportasi ke Prancis

daisy_fajarina1Kabar tidak mengenakkan dialami keluarga besar Manohara. Saat ini, Departemen Luar Negeri tengah mencari cara membawa Daisy Fajarina, ibu Manohara Odelia Pinot ke Prancis.

Ini sehubungan dengan kasus Daisy yang oleh pemerintah Prancis dinyatakan sebagai pelaku kekerasan atas warga negara Indonesia di Negeri Mode itu. “Saya sudah membaca laporan dari Konsulat Jenderal RI di Marseiles, Prancis, yang meneruskan permintaan dari seorang warga negara Indonesia. Orang tersebut dibawa Ibunda Manohara ke Prancis,” ujar Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.

Warga Indonesia yang diajak Daisy tersebut, menurut Hassan, mengalami pelecehan seksual dan kasusnya sudah diputus oleh pengadilan setempat. “Karena sudah ada keputusan dari pengadilan di Prancis, pemerintah setempat meminta pertanggungjawaban Ibu Manohara,” tutur Hassan Wirajuda.

Ia menjelaskan, Departemen Luar Negeri melalui Direktorat Perlindungan WNI akan berkonsultasi dengan Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian RI.

“Koordinasi ini untuk menentukan langkah apa yang akan diambil,” ujar Hassan. Ia menegaskan, membawa Ibu Manohara ke Prancis mesti ditempuh lantaran permintaan resmi dari otoritas hukum Prancis dan korban pelecehan seksual. WNI tersebut, kata Hassan, berhak memperoleh keadilan dalam kasus ini. “Jadi ditanya, sinetronnya jadi lebih ruwet lagi. Saya tidak mau ikut-ikutan kecuali tugas officialnya,” ujar Hassan sambil tersenyum.

Daisy Fajarina membantah tuduhan pemerintah Prancis bahwa dirinya melakukan pelecehan seksual terhadap warga negara Indonesia. Ketika ia tinggal bersama suaminya Reiner Pinot Noak di Prancis, memang membawa Saleha dari Sulawesi Selatan.

Saat diajak ke Prancis, Saleha baru umur 15 tahun. Ia kabur dari rumahnya ketika dipergoki berhubungan intim dengan suami Daisy pada kisaran Maret-Aprli 2007. “Saya sangat terluka dengan kejadian itu. Semenjak umur 15 tahun saya didik layaknya anak sendiri dan saya amat mencintai suami saya,” kata Daisy. Jika pemerintah Prancis mengharuskan dirinya datang, Daisy siap ke sana.

“Tuduhan tersebut tidak benar. Sama sekali tidak benar,” jawab Daisy. Ia tidak tahu kekerasan dan pelecehan seksual yang dituduhkan Saleha kepadanya. Sebab, ketika Daisy memergoki Saleha bersebadan dengan suaminya dilakukan atas dasar suka sama suka.“Waktu itu saya keluar rumah tapi handphone saya ketinggalan, kemudian balik lagi dan saya mendapatkan mereka berdua sedang dalam proses hubungan intim,” ungkap Daisy.

Setelah peristiwa itu, menurut Daisy, Saleha pergi dari rumahnya tanpa pamit dengan meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf dan meminta untuk tidak dilaporkan ke polisi Prancis. “Tapi, diluar dia bilangnya diperbudak, kerja berbelas-belas jam dan tidak pernah melihat matahari,” beber Daisy. Daisy akan memberi keterangan jika diminta pemerintah Prancis dan mencari bantuan kuasa hukum dari Indonesia dan Prancis. “Kalau harus ke sana kenapa tidak,” jawab Daisy. *



Baca Juga :


Comments are closed.