BPK Temukan BLT dari Utang Luar Negeri
Dana bantuan langsung tunai (BLT) yang dibagikan kepada warga miskin selama kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudoyono ternyata berasal dari dana pinjaman luar negeri. “Audit Badan Pemeriksa yang menyatakan itu,”ujar Kepala Divisi Advokasi dan Jaringan International NGO Forum on Indonesian Development Wahyu Susilo Sabtu (13/6).
Temuan Badan Pemeriksa tersebut, Wahyu melanjutkan, kemudian ditelusuri sumbernya. Pihaknya menemukan bahwa bantuan langsung tunai didanai dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan pinjaman Jepang. Skemanya berasal dari Development Policy Loan World dan Co Financing Development Policy Support.
Sekretaris Jenderal Departemen Sosial Chazali Situmorang mengelak tudingan itu. Sumber pembiayaan bantuan tunai berasal dari rupiah murni Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Diakuinya Anggaran Pendapatan bersumber dari rupiah murni (pendapatan minyak gas, hasil pajak) dan dari pinjaman luar negeri. “Untuk bantuan ini rupiah murni, idenya juga dari pemerintah,”jelasnya membantah.
Sementara itu, Sebanyak 2.862 rumah tangga sasaran (RTS) atau warga miskin penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kabupaten Jember, tidak mengambil dana BLT hingga batas waktu terakhir pada Minggu (31/5) lalu. Kepala Kantor Pos Jember, Adi Sunanto, menyebutkan bahwa jumlah warga Jember yang mengambil dana BLT sebanyak 234.212 RTS (98,79 persen) dari total penerima BLT di Jember sebanyak 237.074 RTS. “Sisanya, atau 2.862 RTS tidak mengambil BLT atau 1,2 persen, tidak mengambil,” kata Adi.
Total anggaran sebesar Rp 572.400.000 harus dikembalikan ke pemerintah karena batas akhir pengambilan BLT di kantor pos setempat sudah ditutup.”Sisa anggaran itu akan dikembalikan ke pemerintah dalam waktu dekat,” katanya.Pembagian BLT di Jember, dimulai sejak Rabu (29/4) hingga Minggu (31/5) di masing-masing balai desa atau kantor kelurahan di Kabupaten Jember.
Adi mengungkapkan, ada beberapa kemungkinan warga tidak mengambil BLT di Jember karena meninggal dunia, pindah dan yang bersangkutan sudah mampu atau kaya.”Satgas BLT tidak mendapat informasi yang pasti tentang alasan warga tidak ambil BLT,” katanya.
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Jember, Edi Budi Susilo, mengatakan, ada beberapa alasan warga tidak mengambil dana BLT sebesar Rp200 ribu di Kabupaten Jember, di antaranya pindah dan meninggal dunia.”Kemungkinan warga yang sudah didata sebagai penerima BLT meninggal dunia dan pindah ke luar Jember,” katanya. Selain itu, katanya, kondisi itu terjadi akibat perubahan aturan dari pemerintah pusat dalam pencairan dana BLT. Tahun lalu, pemerintah mencetak kartu penerima BLT, namun tahun ini tidak. Sedangkan warga yang hendak mencairkan BLT harus menggunakan KTP. *
Popularity: 1% [?]