Penduduk Miskin di HK Meningkat

poorhongkong1Hui Po Keung, dosen di Lignan University menperkirakan jumlah penduduk miskin di Hong Kong akan meningjkat tajam pasca krisis financial, yang hingga kini belum jelas kapan akan berakhir. Penyebabnya, pengangguran dan pemangkasan upah terus meningkat, namun di sisi lain, harga makanan dan sewa rumah melonjak.

Ia memperkirakan warga Hong Kong kelas bawah dengan penghasilan kurang dari HK$5000 sebulan semakin bertambah besar, dari 440.000 orang di tahun 2006 menjadi 500.000 orang di tahun 2008. Dan keluarga dengan pendapatan rendah (total pendapatan tak lebih dari HK $ 4000 sebulan) meningkat 22,7 persen, dari 155.500 menjadi 199.000 keluarga.

Meningkatnya keluarga miskin ini tentu saja mengancam keberadaan buruh migrant, terutama dari Indonesia atau BMI. Buruh migran akan jadi korban terburuk krisis global karena mereka yang akan dipaksa pertama kali berkorban jika negara tujuan harus menetapkan skala prioritas dalam mengatasi krisis ekonomi saat ini.

Dalam forum diskusi tentang “Melawan Resesi Global” yang digelar Hong Kong People’s Alliance on Globalization di Polytechnic University, Hong Kong, Minggu (17/5) dengan pembicara Apo Leong dari Asia Monitoring Resource Centre (AMRC); Hui Po Keung, dosen di Lignan University; Fong Man-ying dari Hong Kong Federation of Women’s Centre; Crystal Chow dari Hong Kong Federation of Students; dan Eni Lestari yang mewakili Asian Migrant Coordinating Body (AMCB), semua pembicara sepakat bahwa krisis global akan berdampak buruk bagi buruh migran.

Untuk melindungi buruh migran dari tindak sewenang-wenang, menurut Hui Pong, peemrintah HKG harus memperluas penciptaan lapangan kerja, mengundangkan minimum wage, mengatur jam kerja maksimum, dan menciptakan skema bantuan bagi para penganggur. Ia juga menekankan bahwa Hong Kong juga mesti memperhatikan kondisi buruh migran.

“Bukan hanya kapitalis saja yang berjasa dalam menyumbang perekonomian Hong Kong, tapi juga buruh migran. Keberadaan mereka memungkinkan para majikan bekerja di luar,” ungkap Hui Po Keng. Organisasi Perburuhan Dunia (ILO) memperkirakan lebih dari 38 juta orang di dunia akan jadi pengangguran akibat krisis ini dan 80% dari mereka tak akan punya akses ke jaring pengaman sosial.

Eni Lestari mengatakan bahwa krisis membuat upah buruh migran punya risiko untuk diturunkan dan ekspolitasi terhadap mereka meluas. Penjagaan di perbatasan akan semakin ketat dan buruh migran juga akan menjadi korban xenophobia (kebencian terhadap orang asing-red) karena dianggap mengurangi jatah kerja warga lokal. Ini membuat rasisme juga akan meningkat. “Yang paling pertama dipaksa berkorban dalam kondisi krisis seperti ini adalah buruh migran,” ungkapnya. *

Popularity: 2% [?]



Baca Juga :


Comments are closed.