JK Akui Kurangi Anggaran, SBY Bantah

990101-F-5502B-002Jatuhnya pesawat Hercules C-130 TNI AU di Magetan memicu perbedaan pendapat Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menurut Wakil Presiden M Jusuf Kalla, jatuhnya pesawat angkut jenis Hercules C-130 TNI AU akibat tidak adanya anggaran yang cukup untuk pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) di Indonesia. “Ini akibat tidak diberi porsi yang cukup untuk alutsista kita,” kata Wapres Jusuf Kalla.

Menurut Wapres, alutsista yang dimiliki oleh TNI AU sebagian besar sudah tua usianya dan dibeli ketika zaman (Alm) Jenderal M Jusuf. Oleh karena itu, Wapres menegaskan ke depan soal anggaran alutsista ini harus segera dipenuhi. “Ini (anggaran alutsista) harus segera. Saya jamin itu,” kata Wapres dengan nada serius. JK yang memang pengusaha mengatakan, pesawat angkut jenis Hercules ini tidak hanya dipakai untuk perang, tetapi juga untuk tugas-tugas kemanusiaan di saat damai. Dalam kesempatan itu Wapres juga mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban.

Sebaliknya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, jatuhnya pesawat Hercules tidak terkait dengan pemangkasan anggaran militer. “Pesawat jatuh tidak ada kaitannya dengan pemangkasan anggaran militer. Yang dipangkas adalah anggaran pembelian alutsista yang masih bisa ditunda. Tapi, anggaran perawatan dan operasional tidak ditunda,” kata Presiden.

Presiden meminta semua pihak untuk tidak terburu-buru dalam mengungkapkan penyebab jatuhnya pesawat. “Jangan cepat bilang kecelakaan karena apa. Hal ini memerlukan investigasi, apakah karena ada human error, cuaca, atau kerusakan mesin,” katanya lagi. Menurut Presiden, hingga siang ini informasi yang diterimanya baru seputar kelayakan terbang dari pesawat tersebut. “Saya baru dapat laporan, pesawat tersebut masih laik terbang,” kata Presiden singkat.

Namun Menhan Djuwono Sudharsono mendukung pernyataan Jusuf Kalla. Pengadaan suku cadang untuk pesawat Hercules tipe B hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan beberapa unit milik TNI AU yang beroperasi. Penyebabnya tidak lain karena nilai anggaran pertahanan yang selalu kurang dari kebutuhan jajaran TNI. “Anggaran tahunan kita selalu di bawah 36 persen dari yang diperlukan,”ungkapnya.

Dugaan minimnya perawatan armada Hercules TNI. Bebarapa hari sebelum yang jatuh pagi ini di Magetan, sebuah Hercules mengamali kecelakaan saat mendarat di Wamena, Papua. Akibat keterbatasan anggaran tersebut, maka hanya separuh dari sembilan unit pesawat angkut Hercules tipe B milik TNI yang beroperasi. Kondisi demikian masih tergolong lebih baik bila dibandingkan era sebelum pencabutan embargo suku cadang peralatan militer oleh AS per 2007 silam. “Suku cadang yang embargonya dicabut sejak 2007 hanya cukup untuk mendukung operasional separuh dari total sembilan Hercules tipe B milik kita,” ujar Menhan.

Menurut dia, pengadaan suku cadang untuk separuh unit armada Hercules yang ada termasuk lancar, juga dengan perawatan rutinnya. Karenanya penyelidikan segera dilaksanakan TNI setelah seluruh proses evakuasi di Magetan selesai. “TNI menyelidiki penyebabnya. Apa karena faktor teknis, usia atau lebih berat ke faktor operasional,” sambungnya.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Wijayanto mengatakan, salah satu penyebabnya yakni faktor usia pesawat yang sudah uzur. Pesawat yang sudah uzur ini diibaratkan seperti peti mati terbang. Dengan kondisi seperti itu seharusnya tidak diterbangkan agar tidak ada lagi korban. “Seharusnya seperti pesawat sipil, mengalami kecelakaan tidak boleh terbang. Sebaiknya itu dilakukan,” ujarnya.

Meskipun pihak Lapangan Udara (Lanud) memperbolehkan pesawat berusia uzur terbang, menurut Andi, tetap saja pesawat tidak dalam kondisi 100% siap terbang. Seharusnya TNI memberanikan diri memperbarui alat utama sistem senjatanya (alutsista). “Jangan sampai ada lagi pasukan yang gugur,” imbau Andi.

Secara tegas Andi menilai keberadaan pesawat-pesawat AU sekarang tidak bedanya dengan peti mati terbang. “Istilah yang saya pakai AU banyak memiliki peti mati terbang,” tandasnya. Sebelumnya pesawat serupa juga jatuh di Papua dan pesawat Fokker jatuh di Bandung. *

Popularity: 4% [?]



Baca Juga :


Comments are closed.