PKS Nilai SBY Takabur, Mega-Prabowo Merapat

Penunjukkan Boediono sebagai cawapres SBY kini menjadi bola liar.

Aksi penolakan dan penghadangan terus terjadi. Di Bandung, sehari menjelang deklarasi Capres Partai Demokrat di berbagai sudut Kota Bandung bertebaran spanduk bertuliskan “Say No To Boediono, Say Yes To Budi Anduk”.

Spanduk bernada satire atau sindiran untuk menolak Gubernur Bank Indonesia Boediono sebagai Cawapres pendamping Susilo Bambang Yudhoyono, terpampang di sejumlah jalan protokol kota Bandung seperti Jalan Ir H Juanda kawasan Dago, Jalan Diponegoro yang juga terdapat Gedung Sate. Spanduk yang cukup menarik perhatian warga Bandung itu juga terpampang di Jalan Jalan Lingkar Selatan, Jalan Pelajar Pejuang 45, Jalan BKR, dan Jalan Soekarno Hatta.

Pada bagian bawah spanduk yang menyebutkan nama Budi Anduk, pelawak yang tengah populer dan naik daun itu, pada bagian bawah tertulis “Forum Pembela Bangsa.” Spanduk dengan warna dasar putih, dengan tulisan warna merah, biru, dan hitam tampak jelas terbaca dari kejauhan. Warga yang kebetulan melintas dan membawa spanduk itu tampak tersenyum dikulum tanpa komentar. Boedino sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia dinilai bermazhab ekonomi neo-liberal atau berwatak kapitalis yang tidak sesuai cita-cita mensejahterakan rakyat Indonesia yang masih dililit kemiskinan.

Sindiran terhadap SBY juga dating dari mitra koalaisi yang kini menjauh yakni Partai Keadilan Sejahtera. PKS meminta Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk tidak takabur. Apalagi sampai menyebut peran Tuhan dalam menentukan cawapres Boediono hanya 1 persen. “Kalau kita membalik 1 persen di tangan SBY dan 99 persen di tangan Tuhan, jadi jangan takabur. Masa Tuhan hanya dikasih 1 persen,” kata Ketua FPKS Mahfudz Siddiq. “Kekalahan itu biasanya karena dia singkirkan Tuhan dengan 1 persen dan terlalu yakin dengan 99 persen,” ujar Mahfudz.

Dia menilai, Demokrat hanya mendapat 20 persen saja suara dalam pemilu, tetapi apa yang dilakukannya seolah memiliki 70 persen. “Padahal dulu saja PDIP yang bisa 30 persen lebih, tidak pernah mengatakan 1 persen lagi Tuhan. Jadi kalau kemarin dia mengatakan jangan takabur, sekarang kita balikkan, SBY dan PD jangan takabur juga,” kritiknya.

Sementara itu, pencalonan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto sebagai wakil presiden mendampingi calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri semakin menguat. Dikabarkan, mantan Danjen Koppasus tersebut akhirnya bersedia dicalonkan sebagai cawapres dengan deal tertentu.

Salah satunya, jika pasangan tersebut berhasil memenangi Pemilu Presiden 2009, kewenangan Prabowo akan lebih besar dibandingkan Megawati. “Iya, mengarah ke sana,” ujar sumber di Partai Gerindra yang tidak mau disebut namanya tersebut.

Namun, menurutnya, skenario Mega-Pro masih memiliki peluang untuk berubah, kendati batas waktu pengajuan pasangan capres dan cawapres di Komisi Pemilihan Umum semakin dekat. Namun, peluang tersebut tidak besar. Kabar adanya kepastian pendeklarasian Prabowo sebagai cawapres di markas Gerindra pada Kamis sore ini ditepisnya. “Belum ada itu,” ujarnya. Hingga saat ini, suasana di kantor DPP Gerindra masih sepi. *

Popularity: 1% [?]



Baca Juga :


Comments are closed.