SBY Sukses Acak-acak Koalisi Partai

pemilu2009Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa kembali mendatangi Megawati Soekarnoputri dan bertemu dengan sejumlah petinggi PDI Perjuangan. Langkah ini dinilai upaya memecah belah partai yang tergabung dalam koalisi besar. Pengamat politik LIPI Syamsudin Haris menilai SBY melirik PDIP untuk mengacak-acak Koalisi Besar antara PDIP, Golkar, Hanura dan Gerindra. “Fenomena ini menjelaskan sangat pragmatisnya parpol-parpol kita. Jadi ideologi itu hanya tameng untuk kekuasaan,” katanya.

Namun Hatta Rajasa yang merupakan pembawa pesan antara Partai Demokrat dan PDI Perjuangan mengatakan, komunikasi yang dijalin keduanya merupakan sesuatu yang besar bagi kepentingan bangsa dan negara.”Saya ke Teuku Umar melakukan suatu komunikasi apa yang selama ini sudah terjalin antara saya sebagai yang diutus SBY untuk melakukan komunikasi politik dengan Taufik Kiemas, dengan Pramono. Ini suatu yang besar untuk bangsa kita agar bisa berjalan baik,”ujar Hatta.

Ketika ditanyakan apakah arah dari pertemuan-pertemuan ini merupakan koalisi yang lebih besar daripada ‘koalisi besar’ sebelumnya, Hatta enggan berkomentar. Hatta merasa tidak berkompeten untuk menjawabnya dan hanya meminta semua pihak untuk berdoa untuk proses ini.

Sekjen PDI-P Pramono Anung pun senada. Proses komunikasi politik yang ditempuh oleh PDI-P dengan Demokrat, sama seperti yang ditempuh PDI-P dengan Golkar dan Hanura. “Yang dilakukan Hatta merupakan fungsi messenger menyampaikan pesan-pesan dari Pak SBY untuk Ibu Mega. Begitu juga kami,” tutur Pramono pada kesempatan yang sama.

Namun upaya Partai Demokrat untuk menggaet PDIP ditolak oleh sejumlah mantan aktivis mahasiswa 1998, yang menjadi calon anggota legislatif (Calge) PDIP. “PD dan SBY sedang melakukan operasi politik pecah belah ‘devide et impera’ terhadap PDIP dan koalisi besar,” kata mantan deklarator Repdem, yang juga caleg DPR RI dari PDIP Dapil DKI Jakarta, Masinton Pasaribu.

Masinton menegaskan, walau nanti terjadi koalisi PD dan PDIP, belum tentu keputusan koalisi itu akan diikuti di level akar rumput. “Kondisinya mirip tahun 2004 saat akar rumput PDIP tidak siap berkoalisi dengan Partai Golkar,” jelas dia. Namun, lanjut Masinton, kader PDIP tetap setia dan solid dengan keputusan Kongres dan hasil Rakernas untuk mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai capres. “Keputusan arah koalisi itu diserahkan sepenuhnya kepada Megawati sebagai ketua umum yang memiliki hak prerogatif,” tandasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono mengaku tak melihat sesuatu yang luar biasa terkait penjajakan koalisi Partai Demokrat dan PDI Perjuangan, yang selama ini dikenal berseberangan. Ia mengatakan, jika berkaca pada platform kedua partai, bukan hal yang istimewa jika keduanya berkoalisi. “Kalau melihat dari platform politik masing-masing partai, intinya bukan sesuatu hal yang mengejutkan. Platform Demokrat dan PDI-P sebenarnya tidak banyak perbedaan mendasar. Nasionalis kebangsaan,” ujar Agung.

Jika kedua partai memutuskan berkoalisi, Agung justru melihatnya sebagai hal yang positif. Golkar merasa dikhianati PDI Perjuangan yang semula bersama di koalisi besar? “Memang sebelumnya ada dalam koalisi besar. Kita belum tahu apakah koalisi itu berlaku pada periodenya. Saya kira harus sama-sama diakui bahwa di dalam politik banyak perubahan karena adanya kepentingan,” kata Ketua DPR ini. *

Popularity: 1% [?]



Baca Juga :


Comments are closed.